Jumat, 10 Februari 2012

7 ucapan Yesus dikayu salib

Tanpa terasa, kita telah memasuki Bulan April, bulan untuk kita mengingat kembali makna Paskah yang sesungguhnya. Saat merayakan Paskah merupakan kesempatan yang sangat baik untuk kita merenungkan dan mensyukuri pengorbanan yang telah dilakukan oleh Kristus di atas kayu salib.
Alkitab mencatat ada 7 seruaan yang Tuhan Yesus ucapkan di atas kayu salib. Tentunya kalimat-kalimat yang diucapkan di detik-detik menjelang kematianNya merupakan perkataan yang mengandung pesan berharga, khususnya bagi kita.

1. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34)
Seruan pertama yang diucapkanNya adalah pengampunan. Mana ada orang yang sudah di ambang kematian, namun masih memohonkan pengampunan bagi orang yang menganiaya dirinya ? Doa pengampunan ini menunjukan misi Yesus ke dalam dunia ini, yaitu memperdamaikan kembali manusia dengan Bapa di Sorga.
So, dalam perayaan Paskah ini, siapakah orang-orang yang perlu mendapatkan pengampunan kita ? Mari doakan untuk orang-orang yang pernah menyakiti hati kita. Bapa sudah bersedia mengampuni kita. Dia ingin kita seperti diriNya dengan mengampuni sesama kita.

2. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” (Lukas 23:43)
Apa yang diucapkan Tuhan Yesus itu membuktikan esensi terpenting keKristenan, yaitu keselamatan itu merupakan anugrah. Bukan karena perbuatan kita, bukan karena kita sudah dibaptis, bukan karena aktif pelayanan, bukan karena apa pun usaha manusia. Melainkan hanya oleh karena pemberian Allah semata.

3. Ketika Yesus melihat ibuNya dan murid yang dikasihiNya di sampingnya, berkatalah Ia kepada IbuNya, “Ibu, inilah anakmu !” (Yohanes 19:26-27)
Ini adalah ucapan kasih. Yesus bukanlah menempatkan diriNya sebagai anak, melainkan sebagai pencipta manusia. PerintahNya itu menunjukan kepada hubungan vertikal antara Tuhan dan manusia. Namun Ia juga menjalankan perintah Taurat sebagai manusia yang menghormati orang tuaNya. Yesus memikirkan pemeliharaan Maria di hari tuanya. Yesus adalah Allah yang peduli terhadap umat yang dikasihiNya. Ia selalu memelihara kita sampai pada kesudahan.

4. “Eli, Eli lama sabakhtani ?” Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku ? (Matius 27:46)
Saat itu Yesus merasakan penderitaan rohani yang tidak akan pernah bisa kita bayangkan. Dia mengambil alih hukuman itu sehingga kita bisa dekat kembali dengan Bapa, seperti yang dikatakan dalam Galatia 3:13, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib””. Yesus selalu bersama dengan Bapa, namun karena menanggung dosa kita semua, Dia merasa Bapa meninggalkan Dia untuk pertama kalinya.

5. “Aku haus !” (Yohanes 19:28)

Dalam kemanusiaanNya, dia sudah pernah merasakan penderitaan jasmani, salah satunya adalah merasa haus pada hari itu. Karena Dia pernah haus, maka sesungguhnya kita yang percaya kepadaNya tidak perlu haus untuk selama-lamanya karena Dia sudah menanggung kehausan itu.

6. “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukan kepalaNya dan menyerahkan nyawa-Nya. (Yohanes 19:30)

Perkataan ini menyatakan bahwa segala nubuat para nabi sejak zaman dulu, segala karya Yesus di bumi ini, misi yang diemban Anak Manusia sudah digenapi. Dalam perkataan itulah segala pengharapan iman orang percaya tertuju. Apapun masalah yang kita miliki, Tuhan sudah menyelesaikannya di atas kayu salib 2000 tahun yang lalu. Percayalah dan selalu berharap padaNya, karena selalu ada kemenangan dan jalan keluar.

7. “Ya Bapa, kedalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku” (Lukas 23:46)
Apapun yang terjadi dalam kehidupan Nya, Yesus memilih untuk menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Hal ini menunjukkan siapa yang memegang kendali atas hidupNya. Ke dalam tangan siapakah kita menyerahkan diri kita ? Apakah kita membiarkan ego dan keinginan kita sendiri yang mengendalikan tindakan dan keputusan kita ? Apakah kita menyerahkan diri kita pada orang lain ? Ataukah kita memiliki tujuan hidup kita sendiri ? Beranikah kita menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Allah pencipta kita ? Bersediakah kita mengikuti kehendak Bapa sebagai yang terbaik dalam hidup kita ?
Melalui perenungan tentang 7 perkataan terakhir Tuhan Yesus ini kiranya kita tersadarkan akan betapa besarnya kasih Allah kepada kita. Hanya satu alasan mengapa Dia rela melakukan semuanya itu, and His reason was you !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar